Jumat, 11 Januari 2013



BERSAMA ADALAH SURGA
(oleh Sakalia Wirma )

            Pagi yang cerah, sebuah keluarga yang mungkin bahagia terdiri dari kepala keluarga yang amat bijaksana dan penyayang terhadap keluarganya dan seorang wanita yang sangat sabar dan setia untuk keluarganya serta ketiga malaikatnya. Putri Sulung mereka bernama Tania, anak mereka yang kedua bernama Gilbert dan yang paling bungsu bernama Riana. Mereka hidup di sebuah rumah yang sederhana dan tidak terlalu mewah tapi nyaman untuk ditempati. Ayah bekerja di sebuah perusahaan swasta di Padang tapi keluarganya tinggal di Palembang. Dan hal ini membuat ayah harus bolak balik dari Padang ke Palembang dan tidak mungkin setiap hari harus bolak balik ke rumah, jadi ayah harus tinggal di Padang dan akan kembali ke rumah ketika waktu libur tiba. Namun itu tidak membuat ibu kecewa karena ibu yakin bahwa ayah pasti setia dan hal itu dilakukan hanya demi membahagiakan anak-anaknya juga istrinya yang tercinta.
            Pagi itu hari senin seperti biasa dimulainya semua aktivitas. Ayah mulai bersiap-siap untuk bekerja, ibu mulai membereskan dan menyiapkan segala hal untuk kebutuhan rumah tangga dan ketiga anak mereka bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Tania dan Gilbert berangkat kesekolah bersama-sama.
Ketika Tania sedang ke kantor untuk mengumpulkan tugasnya dan teman-temanya, tiba-tiba ia di panggil oleh salah satu guru yang tak lain adalah wali kelas adiknya Gilbert.
“Hai Tania, kemari sebentar” panggil guru tersebut.
“Ada apa ya, ibu memanggil saya?” jawab Tania dengan terkejut dan bertanya-tanya mengapa ia dipanggil oleh guru tersebut.
“Begini, ibu ingin menanyakan tentang adikmu Gilbert!” katanya dengan nada santai tapi serius.
“Mau menanyakan apa ya, bu ?” jawabnya penasaran.
“Ibu ingin menanyakan ke mana saja adikmu? Kenapa ia tidak masuk hari ini, dan kemaren-maren juga ia jarang masuk sekolah!” jawabnya dengan tegas.
Tania bingung dengan pertanyaan tersebut. Sambil terbata-bata ia menjawab, “tadi pagi ia berangkat sekolah bersama saya bu!”
“Tapi mengapa ia tidak ada di kelas?” jawabnya lagi.
Tania benar-benar bingung dengan pertanyaan guru tersebut. Dia pun menjawab, “saya benar-benar tidak tahu bu kemana ia pergi!”.
“Tolong kamu nasehati adikmu itu, kalau tidak ia akan terancam tidak naik kelas akibat ulahnya tersebut. Sampaikan juga pesan ibu ini kepada kedua orang tuamu!” jawabnya tegas.
“Baik bu, nanti saya sampaikan pesan ibu”, jawab Tania gugup.
Dan ternyata lagi-lagi tentang Gilbert, tentang kenakalannya, tentang kemalasannya dan tentang ketidakhadirannya ke sekolah. Disepanjang jalan Tania terus berfikir. Dan ia juga sangat bingung, ingin memberitahukan antara kebenaran dan kebohongan kepada kedua orang tuanya.
“Jika aku memberitahuakan kepada ayah dan ibu, pasti ayah dan ibu sangat kecewa pada Gilbert” gerutuhnya dalam hati.
“Tapi jika aku tidak memberitahukan hal tersebut kepada ayah dan ibu, pasti Gilbert tidak akan berubah” dengan rasa kecewa dalam hatinya.
Tania benar-benar bingung dengan kelakuan adiknya tersebut. Akan sia-sia saja semua pengorbanan dan jeripayah keringat ayah jika Gilbert terus berkelakuan seperti itu. Setelah berfikir keras seharian akhirnya Tania memutuskan untuk memberitahukan yang sebenarnya kepada ibunya.
Sesampai di rumah dengan aktivitas seperti biasanya, sore itu Tania dan Riana membereskan rumah bersama ibu mereka. Setelah selesai membereskan rumah, mereka mandi dan bersantai-santai di ruang tengah sambil berbincang-bincang tentang aktivitas yang telah dilakukan di luar rumah. Tania ingin menagatakan apa yang telah guru katakan tadi di sekolah padanya. Tania masih takut dan tidak berani tapi akhirnya Tania memberanikan dirinya juga.
“Bu, ada yang ingin aku katakan pada ibu” katanya dengan gugup.
“Iya, apa yang ingin kau katakan nak?” jawab ibu dengan penasaran.
“Gini bu, tadi wali kelasnya Gilbert mengatakan padaku bahwa Gilbert hari ini tidak masuk sekolah dan sering sekali ia tidak sekolah” dengan rasa takut tania mengatakannya.
“Apa? Bukannya tadi ia berangkat ke sekolah bersamamu nak!” dengan nada terkejut.
“Memang bu, ia pagi tadi ke sekolah bareng denganku. Tapi setelah itu ia bolos dari sekolah bu” jawab Tania ragu-ragu.
Dengan rasa kecewa, ibu hanya terdiam mendengar perkataan Tania tersebut. Dari kejahuan Gilbert mendengar perkataan Tania tentang kelakuannya tersebut kepada ibunya. Gilbert mengelah-ngelah perkataan kakaknya tersebut.
“Ibu, apa yang dikatakan Tania itu bohong. Ia hanya ingin memfitnahku” dengan nada keras.
“Tania itu bohong bu, aku tidak seperti itu” jawabnya marah.
“Kalau kamu tidak melakukannya, kenapa kamu marah?” jawab Tania tegas.
Perang mulut terjadi, mereka bertengkar seperti kicauan burung pagi yang kelaparan. Ibu hanya terdiam melihatnya dan Tania terus berusaha untuk meyakinkan dan menenangkan agar keadaan tidak semakin runyam namun ternyata keadaan semakin memanas. Tania dan Gilbert tak dapat menahan emosinya. Tania menangis dengan tingkah dan kata-kata yang dilontarkan oleh Gilbert terhadapnya. Dan untuk yang ketiga kalinya Gilber memukul kakak perempuannya tersebut yang ke sekian kalinya pula. Sakit sekali hingga membuat Tania tak berdaya, lagi-lagi ibu hanya diam melihat tingkah kedua anaknya tersebut.
Tania terus menangis terseduh-seduh didalam kamarnya, ia terus berfikir apa kesalahannya sehingga membuat adik yang sangat ia sayangi tersebut begitu marah dan membencinya. Padahal apa yang ia lakukan itu semata-mata untuk kebaikan adiknya itu sendiri. Ia tak ingin adiknya nanti terbengkalai karena ulahnya di masa muda, namun pandangan adiknya bahwa bentuk kepedulian Tania tersebut melainkan sebagai pisau tajam yang akan menusuk adiknya sendiri. Berulang kali Tania diperlakukan seperti itu. Namun Tania hanya dapat menangis. Tania tidak tahu mau mengaduh kepada siapa atas apa yang terjadi padanya, ibunya pun tidak begitu memperdulikannya setelah kejadian itu. Ibu cuek-cuek saja tapi semakin perhatian terhadap Gilbert. Keirianku semakin memuncak. Selalu dan selalu. Ibu lebih memperhatikan dan peduli kepada Gilbert sedangkan Riana dan Tania hanya seperti biasa. Hanya karena Gilbert adalah seorang anak laki-laki satu-satunya jadi Gilbert terlalu di manja dan apa yang ia mau pasti terwujudkan. Dan Tania terus mencoba untuk tidak memperdulikan hal tersebut karena ia percaya bahwa apa yang dilakukan ibu itu adalah hal yang terbaik.
Malam itu Tania enggan untuk keluar dari kamarnya, ia masih bersedih dan matanya sangat merah dan bengkak karena menangis atas kejadian sore itu. Ia menelpon ayahnya yang sedang dinas di perusahaan swasta di Padang, sambil menangis ia menceritakan semua yang telah terjadi.
“Halo ayah” jawabnya terbata-bata.
“Iya, ada apa Tania?” jawab ayah dengan santai.
“Ayah, tadi aku bertengkar dengan Gilbert” jawabnya sambil menangis kecil.
“Bertengkar kenapa?” jawab ayah penasaran.
“Tadi guru di sekolah mengatakan padaku bahwa Gilbert itu jarang sekolah, ia sering membolos. Dan aku menceritakan hal tersebut kepada ibu, namun Gilbert marah yah” jawab Tania sambil menahan tangisnya.
“Sudah-sudah jangan menangis lagi nak, nanti ayah pulang akan ayah nasehati adikmu itu” jawab ayah menenangkan.
“Iya ayah, ayah cepat pulang aku sendirian di sini” katanya sambil menangis terseduh-seduh.
“Iya nak, nanti ayah pulang. Sekarang sudah malam, kamu tidur ya” jawab ayah.
“Iya ayah, selamat malam dan selamat tidur. Bye ayah” Tania menutup telponnya.
 Setelah menutup telpon, waktu itu telah menunjukkan pukul 23.13 WIB ia mulai mengantuk namun perutnya terasa lapar dan Tania mengingat-ingat lagi bahwa ia lupa belum makan kecuali pagi itu, tapi Tania mengacuhkan hal tersebut. Ia tak ingin makan tengah malam dan ia berusaha untuk menahan laparnya sampai esok pagi. Namun ternyata semakin malam semakin menjadi. Perutnya terasa amat sakit dan tak bisa tertahan lagi. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 04.15 pagi, Tania tetap kesakitan, ia tidak tidur semalaman hanya karena untuk menahan rasa sakit yang menyerangnya. Namun Tania tak dapat menahannya lagi, ia menangis dan membuat sang ibu terbangun oleh suara tangisannya. Ibunya bingung harus melakukan apa, ibu telah mencoba mengobatinya namun Tania terus menjerit kesakitan. Dan akhirnya ibu membawa Tania ke dokter pagi itu. Tania terbaring lemas karena kesakitannya itu. Sekitar jam 09.00 Tania sedang berbaring di rumah sakit. Ibu menitipkan Tania kepada salah satu perawat di rumah sakit itu, karena ibu ingin pulang untuk melihat kedua adik-adik Tania yang tidak mengetahui apa yang terjadi pada Tania.
Saat pulang ke rumah, waktu itu hari libur jadi kedua anaknya tersebut tidak sekolah. Tampak Riana sedang membereskan rumah sedangkan Gilbert masih berbaring tidur di kamarnya.
Riana bertanya pada ibunya, “bu, ibu dari mana?”
Ibu hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari anaknya tersebut. Kemudian ibu membantu kegiatan rumah yang dilakukan oleh Riana. Setelah semuanya beres, ibu bersiap-siap untuk kembali lagi ke rumah sakit. Ibu mengajak kedua anaknya tersebut, namun Gilbert enggan untuk ikut karena ia masih kesal terhadap kakaknya tersebut. Riana terkejut karena ia baru mengetahui bahwa kakaknya itu sedang berada di rumah sakit.
“Ibu kenapa kakak masuk rumah saikit? Kakak sakit apa bu? Tanya Riana penasaran.
“Sudah kamu ikut ibu saja, nanti kamu juga tahu apa yang terjadi pada kakakmu itu” jawab ibu terburu-buru.
Di rumah sakit Tania bingung harus melakukan apa. Ia bosan berlama-lama di sana. Ia ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Menunggu ibunya yang tak kunjung sampai membuat Tania menjadi kesal. Dan ia memutuskan untuk menelpon ayahnya, menanyakan sedang di mana karena hari itu hari libur jadi ayahnya sedang.
“Halo ayah!” tanya Tania awal menelpon ayahnya.
“Iya nak, ada apa?” jawab ayahnya.
“Ayah lagi di mana sekarang, aku lagi sakit di rawat di rumah sakit. Ayah langsung ke sini ya ayah” pinta Tania pada ayahnya.
“Iya nak, ayah segera ke sana” jawab ayahnya kembali.
Setelah Tania selesai menelpon ayahnya, tiba-tiba datanglah ibu dan adiknya Riana menjenguk Tania dengan membawakan makanan.
“Bagaimana keadaan kakak?” tanya Riana pada Tania.
“Alhamdulillah baik-baik saja dek” jawab Tania tenang.
Kemudian Tania melihat-lihat keluar ruangan tempat ia berbaring, ia tak melihat adanya Gilbert di sana. Ia ingin menanyakan tentang Gilbert pada ibunya tapi ia gengsi. Ia urungkan untuk bertanya tentang adiknya tersebut.
Tak lama kemudian ayah Tania datang. Ia langsung duduk di dekat Tania berbaring.
“Nak, kamu sakit apa?” tanya ayahnya dengan cemas.
“Tania sakit tipes yah” jawab Tania dengan lemas.
“Kenapa sampai sakit seperti itu?” tanya ayah kembali.
“Tania malas makan yah, makanya ia sakit seperti itu” jawab ibu menyambung.
“Lain kali makan itu yang teratur, biar tidak sakit lagi” sahut ayah dengan nada lembut sambil mengusap kepala anaknya tersebut.
“Iya ayah” jawab Tania lagi.
“Oh iya, Gilbert kemana bu?” tanya ayah pada ibu.
“Gilbert ada di rumah yah, ia tidak mau kesini karena pertengkaran kemarin dengan Tania” jawab ibu kembali.
Ayah kemudian menelpon Gilbert yang ada di rumah untuk datang ke rumah sakit. Tapi ia tidak mau, namun lama kelamaan ia berfikir sangat bosan jika harus berdiam diri dirumah. Namun kekesalan dan kebencian terus menyelimuti batin Gilbert terhadap kakaknya tersebut.
Di sepanjang jalan Gilbert terus menggerutuh, “rasakan itu Tania, sekarang kena batunya karena ia sakit, tuhan sedang menghukumnya”, gerutuh Gilbert terhadap kakaknya tersebut.
Dan tak lama kemudian dari kejahuan nampak seseorang yang sedang membawa motor dengan kecepatan tinggi berlawanan arah dengan laju kecepatan motor Gilbert tanpa di sadari mereka bertabrakan, Gilbert terbaring tak sadarkan diri akibat kecelakaan tersebut, ia dibawa kerumah sakit oleh warga di sekitar lokasi kejadian dan ternyata Gilbert dibawa kerumah sakit yang sama dengan Tania. Beberapa jam kemudian Gilbert baru sadarkan diri, banyak luka ditubuhnya. Ibu terus menangis melihat kepedihan anaknya tersebut.
Beberapa menit kemudian Gilbert sadarkan diri. Ia terbangun dan menangis. Dari kejahuan Tania juga menangis namun tetap dengan kepura-puraan ia yang mencoba untuk tidak terlalu peduli dengan apa yang menimpa adiknya tersebut. Kemudian Gilbert menyadari bahwa ia sedang menghadapi sebuah karma akibat kelakuannya.
“Kak, maafkan aku. Maafkan semua kesalahanku kemarin, aku tahu aku salah” kata Gilbert dengan nada lirih dan sedih.
“Iya, dek. Aku sudah memaafkanmu dari dulu, kakak melakukan hal itu karena kakak sayang sama kamu” jawab Tania sambil menangis.
“Aku benar-benar minta maaf ya kak” kata Gilbert lagi dengan penuh penyesalan.
“Iya dek” jawab Tania lagi dengan memeluk adiknya Gilbert.
Mereka berdua berpelukan dalam tangisan. Ayah, ibu dan Riana tersenyum melihat kedua anaknya dan kakak-kakaknya itu dapat menyadari kesalahan mereka masing-masing. Orang tua mereka senang dengan keakuran mereka meski tengah menghadapi sebuah musibah. Kejadian ini membuat banyak pelajaran berharga bagi keluarga ini. Dan ayah pun berharap bahwa tak kan ada lagi kejadian yang menyakitkan keluarga ini tuk terulang lagi dan berharap akan terus rukun, damai dan tentram selalu karena sebuah kebersamaan dalam keluarga itu sangatlah indah seperti indahnya dalam sebuah surga. Meski hanya sebuah surga dunia.