BERSAMA
ADALAH SURGA
(oleh Sakalia Wirma )
Pagi
yang cerah, sebuah keluarga yang mungkin bahagia terdiri dari kepala keluarga
yang amat bijaksana dan penyayang terhadap keluarganya dan seorang wanita yang
sangat sabar dan setia untuk keluarganya serta ketiga malaikatnya. Putri Sulung
mereka bernama Tania, anak mereka yang kedua bernama Gilbert dan yang paling
bungsu bernama Riana. Mereka hidup di sebuah rumah yang sederhana dan tidak
terlalu mewah tapi nyaman untuk ditempati. Ayah bekerja di sebuah perusahaan
swasta di Padang tapi keluarganya tinggal di Palembang. Dan hal ini membuat ayah
harus bolak balik dari Padang ke Palembang dan tidak mungkin setiap hari harus
bolak balik ke rumah, jadi ayah harus tinggal di Padang dan akan kembali ke
rumah ketika waktu libur tiba. Namun itu tidak membuat ibu kecewa karena ibu
yakin bahwa ayah pasti setia dan hal itu dilakukan hanya demi membahagiakan
anak-anaknya juga istrinya yang tercinta.
Pagi itu
hari senin seperti biasa dimulainya semua aktivitas. Ayah mulai bersiap-siap
untuk bekerja, ibu mulai membereskan dan menyiapkan segala hal untuk kebutuhan
rumah tangga dan ketiga anak mereka bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Tania
dan Gilbert berangkat kesekolah bersama-sama.
Ketika Tania sedang ke kantor
untuk mengumpulkan tugasnya dan teman-temanya, tiba-tiba ia di panggil oleh
salah satu guru yang tak lain adalah wali kelas adiknya Gilbert.
“Hai Tania, kemari sebentar”
panggil guru tersebut.
“Ada apa ya, ibu memanggil
saya?” jawab Tania dengan terkejut dan bertanya-tanya mengapa ia dipanggil oleh
guru tersebut.
“Begini, ibu ingin
menanyakan tentang adikmu Gilbert!” katanya dengan nada santai tapi serius.
“Mau menanyakan apa ya, bu
?” jawabnya penasaran.
“Ibu ingin menanyakan ke
mana saja adikmu? Kenapa ia tidak masuk hari ini, dan kemaren-maren juga ia
jarang masuk sekolah!” jawabnya dengan tegas.
Tania bingung dengan
pertanyaan tersebut. Sambil terbata-bata ia menjawab, “tadi pagi ia berangkat
sekolah bersama saya bu!”
“Tapi mengapa ia tidak ada
di kelas?” jawabnya lagi.
Tania benar-benar bingung
dengan pertanyaan guru tersebut. Dia pun menjawab, “saya benar-benar tidak tahu
bu kemana ia pergi!”.
“Tolong kamu nasehati adikmu
itu, kalau tidak ia akan terancam tidak naik kelas akibat ulahnya tersebut.
Sampaikan juga pesan ibu ini kepada kedua orang tuamu!” jawabnya tegas.
“Baik bu, nanti saya
sampaikan pesan ibu”, jawab Tania gugup.
Dan ternyata lagi-lagi
tentang Gilbert, tentang kenakalannya, tentang kemalasannya dan tentang
ketidakhadirannya ke sekolah. Disepanjang jalan Tania terus berfikir. Dan ia
juga sangat bingung, ingin memberitahukan antara kebenaran dan kebohongan
kepada kedua orang tuanya.
“Jika aku memberitahuakan kepada
ayah dan ibu, pasti ayah dan ibu sangat kecewa pada Gilbert” gerutuhnya dalam
hati.
“Tapi jika aku tidak
memberitahukan hal tersebut kepada ayah dan ibu, pasti Gilbert tidak akan
berubah” dengan rasa kecewa dalam hatinya.
Tania benar-benar bingung
dengan kelakuan adiknya tersebut. Akan sia-sia saja semua pengorbanan dan jeripayah
keringat ayah jika Gilbert terus berkelakuan seperti itu. Setelah berfikir
keras seharian akhirnya Tania memutuskan untuk memberitahukan yang sebenarnya
kepada ibunya.
Sesampai di rumah dengan
aktivitas seperti biasanya, sore itu Tania dan Riana membereskan rumah bersama
ibu mereka. Setelah selesai membereskan rumah, mereka mandi dan
bersantai-santai di ruang tengah sambil berbincang-bincang tentang aktivitas
yang telah dilakukan di luar rumah. Tania ingin menagatakan apa yang telah guru
katakan tadi di sekolah padanya. Tania masih takut dan tidak berani tapi
akhirnya Tania memberanikan dirinya juga.
“Bu, ada yang ingin aku
katakan pada ibu” katanya dengan gugup.
“Iya, apa yang ingin kau
katakan nak?” jawab ibu dengan penasaran.
“Gini bu, tadi wali kelasnya
Gilbert mengatakan padaku bahwa Gilbert hari ini tidak masuk sekolah dan sering
sekali ia tidak sekolah” dengan rasa takut tania mengatakannya.
“Apa? Bukannya tadi ia
berangkat ke sekolah bersamamu nak!” dengan nada terkejut.
“Memang bu, ia pagi tadi ke
sekolah bareng denganku. Tapi setelah itu ia bolos dari sekolah bu” jawab Tania
ragu-ragu.
Dengan rasa kecewa, ibu
hanya terdiam mendengar perkataan Tania tersebut. Dari kejahuan Gilbert mendengar
perkataan Tania tentang kelakuannya tersebut kepada ibunya. Gilbert
mengelah-ngelah perkataan kakaknya tersebut.
“Ibu, apa yang dikatakan
Tania itu bohong. Ia hanya ingin memfitnahku” dengan nada keras.
“Tania itu bohong bu, aku
tidak seperti itu” jawabnya marah.
“Kalau kamu tidak melakukannya,
kenapa kamu marah?” jawab Tania tegas.
Perang mulut terjadi, mereka
bertengkar seperti kicauan burung pagi yang kelaparan. Ibu hanya terdiam
melihatnya dan Tania terus berusaha untuk meyakinkan dan menenangkan agar
keadaan tidak semakin runyam namun ternyata keadaan semakin memanas. Tania dan
Gilbert tak dapat menahan emosinya. Tania menangis dengan tingkah dan kata-kata
yang dilontarkan oleh Gilbert terhadapnya. Dan untuk yang ketiga kalinya Gilber
memukul kakak perempuannya tersebut yang ke sekian kalinya pula. Sakit sekali
hingga membuat Tania tak berdaya, lagi-lagi ibu hanya diam melihat tingkah
kedua anaknya tersebut.
Tania terus menangis
terseduh-seduh didalam kamarnya, ia terus berfikir apa kesalahannya sehingga membuat
adik yang sangat ia sayangi tersebut begitu marah dan membencinya. Padahal apa
yang ia lakukan itu semata-mata untuk kebaikan adiknya itu sendiri. Ia tak
ingin adiknya nanti terbengkalai karena ulahnya di masa muda, namun pandangan
adiknya bahwa bentuk kepedulian Tania tersebut melainkan sebagai pisau tajam
yang akan menusuk adiknya sendiri. Berulang kali Tania diperlakukan seperti
itu. Namun Tania hanya dapat menangis. Tania tidak tahu mau mengaduh kepada
siapa atas apa yang terjadi padanya, ibunya pun tidak begitu memperdulikannya
setelah kejadian itu. Ibu cuek-cuek saja tapi semakin perhatian terhadap
Gilbert. Keirianku semakin memuncak. Selalu dan selalu. Ibu lebih memperhatikan
dan peduli kepada Gilbert sedangkan Riana dan Tania hanya seperti biasa. Hanya
karena Gilbert adalah seorang anak laki-laki satu-satunya jadi Gilbert terlalu
di manja dan apa yang ia mau pasti terwujudkan. Dan Tania terus mencoba untuk
tidak memperdulikan hal tersebut karena ia percaya bahwa apa yang dilakukan ibu
itu adalah hal yang terbaik.
Malam itu Tania enggan untuk
keluar dari kamarnya, ia masih bersedih dan matanya sangat merah dan bengkak
karena menangis atas kejadian sore itu. Ia menelpon ayahnya yang sedang dinas
di perusahaan swasta di Padang, sambil menangis ia menceritakan semua yang telah
terjadi.
“Halo ayah” jawabnya
terbata-bata.
“Iya, ada apa Tania?” jawab
ayah dengan santai.
“Ayah, tadi aku bertengkar
dengan Gilbert” jawabnya sambil menangis kecil.
“Bertengkar kenapa?” jawab
ayah penasaran.
“Tadi guru di sekolah
mengatakan padaku bahwa Gilbert itu jarang sekolah, ia sering membolos. Dan aku
menceritakan hal tersebut kepada ibu, namun Gilbert marah yah” jawab Tania
sambil menahan tangisnya.
“Sudah-sudah jangan menangis
lagi nak, nanti ayah pulang akan ayah nasehati adikmu itu” jawab ayah
menenangkan.
“Iya ayah, ayah cepat pulang
aku sendirian di sini” katanya sambil menangis terseduh-seduh.
“Iya nak, nanti ayah pulang.
Sekarang sudah malam, kamu tidur ya” jawab ayah.
“Iya ayah, selamat malam dan
selamat tidur. Bye ayah” Tania menutup telponnya.
Setelah menutup telpon, waktu itu telah
menunjukkan pukul 23.13 WIB ia mulai mengantuk namun perutnya terasa lapar dan
Tania mengingat-ingat lagi bahwa ia lupa belum makan kecuali pagi itu, tapi
Tania mengacuhkan hal tersebut. Ia tak ingin makan tengah malam dan ia berusaha
untuk menahan laparnya sampai esok pagi. Namun ternyata semakin malam semakin
menjadi. Perutnya terasa amat sakit dan tak bisa tertahan lagi. Waktu itu sudah
menunjukkan pukul 04.15 pagi, Tania tetap kesakitan, ia tidak tidur semalaman
hanya karena untuk menahan rasa sakit yang menyerangnya. Namun Tania tak dapat
menahannya lagi, ia menangis dan membuat sang ibu terbangun oleh suara
tangisannya. Ibunya bingung harus melakukan apa, ibu telah mencoba mengobatinya
namun Tania terus menjerit kesakitan. Dan akhirnya ibu membawa Tania ke dokter
pagi itu. Tania terbaring lemas karena kesakitannya itu. Sekitar jam 09.00
Tania sedang berbaring di rumah sakit. Ibu menitipkan Tania kepada salah satu
perawat di rumah sakit itu, karena ibu ingin pulang untuk melihat kedua
adik-adik Tania yang tidak mengetahui apa yang terjadi pada Tania.
Saat pulang ke rumah, waktu
itu hari libur jadi kedua anaknya tersebut tidak sekolah. Tampak Riana sedang
membereskan rumah sedangkan Gilbert masih berbaring tidur di kamarnya.
Riana bertanya pada ibunya,
“bu, ibu dari mana?”
Ibu hanya tersenyum
mendengar pertanyaan dari anaknya tersebut. Kemudian ibu membantu kegiatan
rumah yang dilakukan oleh Riana. Setelah semuanya beres, ibu bersiap-siap untuk
kembali lagi ke rumah sakit. Ibu mengajak kedua anaknya tersebut, namun Gilbert
enggan untuk ikut karena ia masih kesal terhadap kakaknya tersebut. Riana
terkejut karena ia baru mengetahui bahwa kakaknya itu sedang berada di rumah
sakit.
“Ibu kenapa kakak masuk rumah
saikit? Kakak sakit apa bu? Tanya Riana penasaran.
“Sudah kamu ikut ibu saja,
nanti kamu juga tahu apa yang terjadi pada kakakmu itu” jawab ibu terburu-buru.
Di rumah sakit Tania bingung
harus melakukan apa. Ia bosan berlama-lama di sana. Ia ingin cepat-cepat pulang
ke rumah. Menunggu ibunya yang tak kunjung sampai membuat Tania menjadi kesal.
Dan ia memutuskan untuk menelpon ayahnya, menanyakan sedang di mana karena hari
itu hari libur jadi ayahnya sedang.
“Halo ayah!” tanya Tania
awal menelpon ayahnya.
“Iya nak, ada apa?” jawab
ayahnya.
“Ayah lagi di mana sekarang,
aku lagi sakit di rawat di rumah sakit. Ayah langsung ke sini ya ayah” pinta
Tania pada ayahnya.
“Iya nak, ayah segera ke
sana” jawab ayahnya kembali.
Setelah Tania selesai
menelpon ayahnya, tiba-tiba datanglah ibu dan adiknya Riana menjenguk Tania
dengan membawakan makanan.
“Bagaimana keadaan kakak?”
tanya Riana pada Tania.
“Alhamdulillah baik-baik
saja dek” jawab Tania tenang.
Kemudian Tania melihat-lihat
keluar ruangan tempat ia berbaring, ia tak melihat adanya Gilbert di sana. Ia
ingin menanyakan tentang Gilbert pada ibunya tapi ia gengsi. Ia urungkan untuk
bertanya tentang adiknya tersebut.
Tak lama kemudian ayah Tania
datang. Ia langsung duduk di dekat Tania berbaring.
“Nak, kamu sakit apa?” tanya
ayahnya dengan cemas.
“Tania sakit tipes yah”
jawab Tania dengan lemas.
“Kenapa sampai sakit seperti
itu?” tanya ayah kembali.
“Tania malas makan yah,
makanya ia sakit seperti itu” jawab ibu menyambung.
“Lain kali makan itu yang
teratur, biar tidak sakit lagi” sahut ayah dengan nada lembut sambil mengusap
kepala anaknya tersebut.
“Iya ayah” jawab Tania lagi.
“Oh iya, Gilbert kemana bu?”
tanya ayah pada ibu.
“Gilbert ada di rumah yah,
ia tidak mau kesini karena pertengkaran kemarin dengan Tania” jawab ibu
kembali.
Ayah kemudian menelpon
Gilbert yang ada di rumah untuk datang ke rumah sakit. Tapi ia tidak mau, namun
lama kelamaan ia berfikir sangat bosan jika harus berdiam diri dirumah. Namun
kekesalan dan kebencian terus menyelimuti batin Gilbert terhadap kakaknya
tersebut.
Di sepanjang jalan Gilbert
terus menggerutuh, “rasakan itu Tania, sekarang kena batunya karena ia sakit,
tuhan sedang menghukumnya”, gerutuh Gilbert terhadap kakaknya tersebut.
Dan tak lama kemudian dari
kejahuan nampak seseorang yang sedang membawa motor dengan kecepatan tinggi
berlawanan arah dengan laju kecepatan motor Gilbert tanpa di sadari mereka
bertabrakan, Gilbert terbaring tak sadarkan diri akibat kecelakaan tersebut, ia
dibawa kerumah sakit oleh warga di sekitar lokasi kejadian dan ternyata Gilbert
dibawa kerumah sakit yang sama dengan Tania. Beberapa jam kemudian Gilbert baru
sadarkan diri, banyak luka ditubuhnya. Ibu terus menangis melihat kepedihan anaknya
tersebut.
Beberapa menit kemudian
Gilbert sadarkan diri. Ia terbangun dan menangis. Dari kejahuan Tania juga
menangis namun tetap dengan kepura-puraan ia yang mencoba untuk tidak terlalu
peduli dengan apa yang menimpa adiknya tersebut. Kemudian Gilbert menyadari
bahwa ia sedang menghadapi sebuah karma akibat kelakuannya.
“Kak, maafkan aku. Maafkan
semua kesalahanku kemarin, aku tahu aku salah” kata Gilbert dengan nada lirih
dan sedih.
“Iya, dek. Aku sudah
memaafkanmu dari dulu, kakak melakukan hal itu karena kakak sayang sama kamu”
jawab Tania sambil menangis.
“Aku benar-benar minta maaf
ya kak” kata Gilbert lagi dengan penuh penyesalan.
“Iya dek” jawab Tania lagi
dengan memeluk adiknya Gilbert.
Mereka berdua berpelukan
dalam tangisan. Ayah, ibu dan Riana tersenyum melihat kedua anaknya dan
kakak-kakaknya itu dapat menyadari kesalahan mereka masing-masing. Orang tua
mereka senang dengan keakuran mereka meski tengah menghadapi sebuah musibah.
Kejadian ini membuat banyak pelajaran berharga bagi keluarga ini. Dan ayah pun
berharap bahwa tak kan ada lagi kejadian yang menyakitkan keluarga ini tuk
terulang lagi dan berharap akan terus rukun, damai dan tentram selalu karena
sebuah kebersamaan dalam keluarga itu sangatlah indah seperti indahnya dalam
sebuah surga. Meski hanya sebuah surga dunia.